Politik adalah karya sastra terburuk dalam sejarah namun mampu membuat sastrawan tunduk padanya. (RolvNez)
Jumat, 02 Desember 2011
Penokohan dalm Novel Pacar Merah Indonesia
Roman Picisan Matu Mona
Pada masa Balai Pustaka, roman picisan memiliki ciri khas sebagai sebuah genre sastra. Roman ini memiliki kontribusi yang besar dalam perkembangan sastra karena menjadi bacaan yang digemari oleh pembaca dengan bahasanya yang segar dan akrab dengan masyarakat. Beberapa bagian dalam bahasanya yang berbeda akan peneliti paparkan berikut ini. Pertama, kata sapaan, pada roman PMI para tokohnya menyebut aku dengan kata beta dan saya, memanggil ibu dengan sebutan inangda, orang terkenal dengan orang termasyur atau tersohor, kamu atau kalian dengan kamu orang, saudara separtai dengan kameradden, keparat dengan hai celaka, orang yang lihai dengan orang yang licin bagai belut, teman dengan konco, seorang yang ajaib penghidupannya, seorang yang mempunyai darah ksatria, dsb. Kedua, pemakaian bahasa asing pun masih ditulis sesuai dengan aslinya belum diserap menjadi bahasa Melayu, seperti nasionalis dengan nationalist,sosialis dengan socialisist, nasional dengan nationaal, simpati dengan sympatie, bioskop dengan bioscoop, aktor dengan acteur, pelajar dengan student,minuman dengan champagne, gratis dengan free, koper dengan koffer, mobil dengan auto, dsb. Ketiga, penyebutan latar tempat dan sosial dalam karya ini sangat nyata, dalam menjelaskan kapan terjadinya dan dimana terjadinya peristiwa, Matu Mona menggunakan kata: konon, saban hari, sesore, lampau, perkampungan, Straits Settelements (Malaysia), Bandar Bangkok, dan kerajaan Gajah Putih (Thailand). Beberapa kata lainnya yang belum penulis temukan di karya-karya Balai Pustaka seperti: “jadi nyatalah kepada kami...”, “rewan bercampur hiba”, “dibukai”, “syakwasangka”, “tuan putri yang gilang gemilang parasnya”, “kiraikan”, dan “mambang”.
Genre roman picisan memang cukup banyak dihasilkan oleh sastrawan dari kalangan wartawan. Mereka menggunakan bahasa Melayu dan menggunakan latar cerita dengan memuat fakta historis. Seperti yang terlihat pada kutipan berikut ini.
Matu Mona menarasikan kongres Pan Melayu dengan memberikan latar waktu untuk menunjukkan bahwa peristiwa kongres tersebut benar-benar terjadi. Pemakaian bahasa Melayu sehari-hari diungkapkan dengan kata-kata “...pemuka-pemuka dari beberapa negeri Melayu, Karena di sana tidak dikhawatiri..., umpamanya umpamanya seperti yang dilangsungkan di Singapura..., saya sudah jalani rata-rata dan mereka itu telah saya buru, maka belakangan saya mendapat kabar yang dipercaya”. Dan penggunaan bahasa asing seperti: conference, congress, sanctuary , Straits Settelements, dan vergadering.
Sebagai roman yang memiliki perbedaan dengan karya Balai Pustaka, kita dapat melihat bahwa gagasan dan hasil sastra yang dimuat dalam roman Medan tidaklah sama dengan novel Balai Pustaka. Selain itu, buku-buku roman Medan seperti roman picisan tidak akan mampu mendominasi kalau hanya mengandalkan terbitan di wilayah Sumatera, suatu hal yang berlainan dengan Balai Pustaka, misalnya, yang tersebar jauh lebih luas. Dalam roman picisan, karya sastra bisa dimanfaatkan untuk mengidolakan seorang tokoh, memberi nasihat, membuat rayuan, memprotes, dsb.
Kamis, 18 Agustus 2011
Cerita tentang Puan Yang Tersandung Akhir
Pagi tlah branjak lelap pun tak bisa kujalani haruskah ku pakai kata-kata Pablo kalau kau sedikit demi sedkit berhenti mencitaiku haruskah ku sedikit demi sedkit berhenti mencintaimu.
Saat lelakiku katakan ya sudah akhiri saja
Kan kuminta Tuhan tuk kembalikan waktu
Karena nyatanya jiwaku takut kehilanganmu
Ah,lelaki
Inginku dekap dirimu
Hingga ku tak lupa lagi bagaimana melukis rasa lewat malam yang berpucuk rindu
Ya,lelakiku
Inginku bersamamu malam ini
Hingga dapat kurasakan dahaga embun pagi esok rasuki ragaku
Huft, lelakiku
Maaf malam ini kecewa yang kuberi padamu
Maaf telah torehkan luka di hatimu
Ku ‘kan minta Tuhan ‘tuk tuliskan cintaku lagi dihatimu hingga ku lelap dalam keabadian-Nya.
Rembulan nan berhujan
***
Hujan
kutitip dia dalam rintikmu biarkan tetesnya basahi ragaku,agar ia tak dengarkan pedihnya hatiku
dan raih bunga tidur indah nan selimuti jiwa pun bersapa dalam tiap hela nafasnya.
Selamat tidur lelaki, lelap tidurku hanya untukmu
***
Rembulan
Usah setia, biarkan kunang-kunang yang temaniku
Cukup terangi dia saja hingga terpejam lewat bisikan Aishiteru dalam benaknya serta selimutkan perasaaku yang sangat mendalam ini
Sayangku takkan pekat padamu
***
Rindu,
Aku rindu senyum itu, aku rindu tatapan itu, rindu, aku rindu, kenapa?
Karena kamu terlanjur ada dalam perasaanku
Rembulan esok pagi tetes hujan itu kan terganti.
By: Nez
Lari,Laki,dan Laku
Berlari Kemudian Menyendiri
Laki
Berpasangan Kemudian Menyelingkuh
Laku
Berbincang Kemudian Meniduri
Menikah?
Menikahlah. Saat proses menuju menikah dipahami
Menikah. Apa itu adat,agama,dan sukses atau kawin?
Nikah. Ya Nikahlah.Saat cerai tidak menjadi benalu pada hubungan
Sabtu, 12 Juni 2010
Perlawanan Sutardji Calzoum Bachri Terhadap Modernisme
Oleh: Agnes Mayda Indraswari
Karya Sutardji Calzoum Bachri tak mudah untuk dibaca juga dipahami. Tidak seperti karya puisi pada umumnya, karya-karya Sutardji Calzoum Bachri menuntut pembacanya untuk memahami, menggali makna bebas yang dikandungnya hingga pembaca dapat memberikan makna sendiri sesuai kemampuan pembaca. Tautan kata dan ragam tutur yang Sutardji Calzoum Bachri berikan dalam tiap karyanya mampu memberikan ekstase perlawanan estetik dan metafisik dari sebuah puisi. Ia memberikan kembali kekuasaan bagi kata untuk menjadi kata tanpa harus terbelenggu moral kata, pesan, dan segala kekangan gramatikal melalui ragam tutur serupa mantra kebebasannya memainkan kata.
Karya Sutardji Calzoum Bachri dalam kumpulan tiga sajak O, Amuk, Kapak yang merupakan kumpulan puisi karyanya sepanjang 1966-1977 merupakan manifestasi dari keunikan pandangan dunia Sutardji Calzoum Bachri yang dapat dilihat melalui berbagai sisi dari falsafah hingga kesusasteraan. Karya inilah yang juga menjadi manifestasi dari pandangannya yang membebaskan kata untuk kembali menjadi kata.
Karya O, Amuk, Kapak mampu menghebohkan dan memancing pro-kontra dikalangan publik sastra. Karya ini mematahkan tabu penggunaan kata dan pemberian makna yang dilakukan oleh puisi. Donny Gahral Adian, dengan latar belakang filsafatnya memandang puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri bukan hanya sekedar puisi namun sebagai ”Esai filsafat tentang bahasa, khususnya kata”. Lebih dari itu, karya O, Amuk, Kapak juga seperti sebuah memoar perjalanan Sutardji Calzoum Bachri dalam mencari keberadaan eksistensi diluar eksistensinya melalui tiap gagasannya yang bergelombang sulit ditebak dan penuh kejutan. Usaha transedental dan mistis Sutardji Calzoum Bachri dapat ditemukan dalam puisinya yang berjudul ”Hyang, Mantra, Q, Amuk, dan Walau”. Memahami karya O, Amuk, Kapak Sutardji Calzoum Bachri sebagai usaha transedensi seorang penyair dapat merekam tiap langkah yang Ia jalani yaitu mantra, semangat nihilisme yang serupa dengan Nietzsche, kemudian unsur sufisme yang kental. Ketiga langkah inilah yang membentuk kesan bagi karya Sutardji Calzoum Bachri pada O, Amuk, Kapak.
Sutardji Calzoum Bachri dilahirkan di Rengat, Riau, 24 Juni 1941. Ia mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung ketika Ia masih berkuliah di Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran. Kemudian sajak-sajaknya dimuat dalam majalah sastra Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana. Sekembalinya dari Amerika serikat Ia hijrah dari Bandung ke Jakarta. Lalu dia menjadi salah seorang redaktur majalah sastra Horison. Sutardji Calzoum Bachri tidak hanya menulis puisi, Ia juga menulis esai dan cerpen. Kumpulan cerpennya yang sudah diterbitkan adalah Hujan Menulis Ayam pada tahun 2001.
Perlawanan terhadap peradaban rasionalisme, positivisme dan modernisme dilakukan oleh Sutardji melalui kredo puisinya yang memandang bahwa kata bukanlah alat untuk menghantarkan pengertian melainkan pengertian itu sendiri. Ia juga membebaskan kata dari belenggu pemaknaan, tabu moral kata dan gramatika yang membatasi kata sebagai alat pengantar pesan.
Pemahaman ini dibuktikan oleh Sutardji melalui karyanya yang menggunakan ragam tutur serupa mantra. Mantra adalah ragam tutur yang digolongkan sebagai puisi bebas paling tua didunia sebab Ia tidak terikat pada aturan ketat seperti pada pantun, gurindam, atau syair. Mantra juga bisa disebut sebagai bahasa berirama. Mantra tidak menekankan pada makna, tetapi pengaruh magis dari kata-katanya yang membangkitkan asosiasi tertentu. Mantra sepenuhnya tidak rasional, tetapi sebagai ragam tutur estetik mantra memiliki maknanya sendiri.
Dalam antologi O bahasa mantra dapat ditemukan dalam sajak ”Mantra”;
Lima percik mawar
Tujuh sayap merpati
Sesayat langit perih
Dicabik puncak gunung
Sebelas duri sepi
Dalam dupa rupa
Tiga menyan luka
Mengasapi duka
Puah!
Kau jadi Kau!
Kasihku!
Dengan kembali ke mantra, Sutardji ingin kembali kepada semangat pawang ketika manusia belum dipengaruhi oleh paham falsafah keilmuan seperti rasionalisme, intelektualisme, materialisme, darwinisme, dan lain-lain. Sutardji ingin membalikkan pemahaman kaku yang berasal dari kekangan aturan yang membuat kata hanya menjadi pengantar pesan dan melawan bentuk bentuk baku dari sebuah apresiasi.
Sutardji Calzoum Bachri melalui keberaniannya melawan pakem aturan sastra menjadikan dirinya dan karyanya sebagai sebuah icon perlawanan sastra melalui nada pesimistik dan nihilistik dalam sajak-sajaknya. Sutardji yang membebaskan kata dari belenggu aturan dan makna telah memasukkan unsur posmodernisme yang mendobrak pakem materialisme dan positivisme khas peradaban modernisme bahkan jauh sebelum publik sastra mulai memperdebatkan pentingnya relevansi postmodernisme dalam karya sastra.
Namun kekuatan perlawanan Sutardji bukanlah berasal dari ide adopsi dari falsafah barat melainkan berasal dari usahanya mengembalikan kata menjadi kata itu sendiri. Kekuatan perlawanan Sutardji menemukan pijakannya pada ragam tutur mantra yang telah dimiliki oleh peradaban nusantara jauh sebelum Nietzsche menghembuskan nihilisme dan posmodernisme kedalam peradaban barat.
Keberanian Sutardji untuk melepaskan diri dari kekangan orientasi rasionalisme dan materialisme membuatnya mampu mengeksplorasi pengalaman religius, spiritual dan transedental yang Ia apresiasikan melalui karya-karyanya.